Kalau kamu sering ngurusin event—mau itu wedding, konser kecil, gathering kantor, sampai launching produk—pasti pernah kepikiran satu hal penting: “Lighting ini boros daya gak sih? Gensetnya cukup gak?”
Pertanyaan ini wajar banget. Soalnya salah perhitungan sedikit saja, nanti lampu bisa drop, efek lighting mati-mati, bahkan yang paling ngeselin: sound jadi kresek-kresek karena voltase nggak stabil.
Makanya, di artikel ini kita bahas tuntas:
✅ Lighting itu boros atau enggak
✅ Perhitungan dayanya gimana
✅ Jenis-jenis lampu event dan konsumsi watt-nya
✅ Cara menentukan kapasitas genset yang aman
✅ Tips biar listrik stabil seharian
✅ Dan kapan lebih baik kamu pakai layanan sewa genset Jogja
Siap? Yuk langsung masuk!
1. Lighting Event itu Boros Apa Nggak? Jawabannya: Tergantung Jenis Lampunya
Sebenarnya, lighting tidak selalu boros, apalagi kalau kamu pakai lampu modern berbasis LED.
Mari kita bedah singkat:
✅ 1. Lampu LED (Moving Head LED, PAR LED, Beam LED)
- Konsumsi daya kecil
- Output cahaya terang
- Efisiensi tinggi
- Nggak gampang panas
Rata-rata consumption:
- PAR LED 18×10W = sekitar 150–200 watt
- Moving Head Beam LED = 250–350 watt
- LED Wash = 150–300 watt
✅ 2. Lampu Halogen atau Konvensional
- Ini yang boros banget
- Suhu sangat panas
- Umumnya dipakai di era lama (sekarang makin jarang)
Consumption bisa 4× lipat dari LED.
Misal satu lampu halogen 1000W = sama seperti 4–5 PAR LED.
Jadi kalau event kamu memakai full LED, itu jauh lebih hemat dan stabil.
2. Kebutuhan Daya Lighting: Berapa Sih Rata-rata di Sebuah Event?
Biar kamu punya gambaran, ini contoh kebutuhan daya real untuk event kecil–menengah di Jogja:
A. Wedding Indoor
- 8 PAR LED: 8 × 150W = 1.200W
- 4 Moving Head Beam: 4 × 300W = 1.200W
- 2 LED Strip / ambient: 2 × 50W = 100W
Total: ± 2.500W (2,5 kW)
B. Event Mini Concert / Band Performance
- 12 PAR LED: 12 × 150W = 1.800W
- 6 Moving Head Beam: 6 × 300W = 1.800W
- Smoke machine: 800W
Total: ± 4.400W (4,4 kW)
C. Event Outdoor Malam (Medium)
- 16 PAR LED: 16 × 150W = 2.400W
- 8 Moving Head: 8 × 300W = 2.400W
- Follow Spot LED: 300–600W
Total: ± 5.200W–5.400W (5–5,4 kW)
Jadi, standar kebutuhan lighting event itu tidak setinggi yang orang bayangkan. Yang bikin daya jadi naik bukan lampunya saja, tapi… lanjut di bawah.
3. Yang Bikin Genset Ngedrop Bukan Selalu Lighting — Tapi Kombinasi Alat Lain
Kalau lighting saja, seringnya aman.
Tapi masalah muncul saat lighting digabung dengan:
✅ Sound system besar
✅ LED screen
✅ AC portable
✅ Kipas blower
✅ Mesin fog / haze
✅ Peralatan katering (kompor listrik, rice cooker, warmer)
Kalau semua digabung di satu genset dengan perhitungan asal-asalan, ya jelas tekor.
LED screen saja butuh mulai 3.000–6.000W.
Sound system band full bisa 3.000–5.000W.
AC portable 5 PK bisa tembus 3.000W per unit.
Makanya selalu pisahkan line listrik:
- Lighting → panel khusus
- Sound → panel sendiri
- LED screen → minimal 1 phase khusus
Ini yang sering salah di event kecil—semua alat diceplokin ke satu MCB.
4. Cara Menghitung Daya Lighting agar Genset Tidak Tekor
Oke, sekarang masuk ke rumus gampangnya.
Langkah 1: Catat semua alat yang dipakai
Contoh event outdoor medium:
| Alat | Jumlah | Watt per unit | Total Watt |
|---|---|---|---|
| PAR LED | 16 | 150W | 2.400W |
| Moving Head | 8 | 300W | 2.400W |
| LED Bar | 4 | 100W | 400W |
| Fog Machine | 1 | 800W | 800W |
Total lighting = 6.000W (6 kW)
Langkah 2: Tambahkan 20–30% “cadangan”
Standar industri event:
Total daya × 1.3
6.000 × 1.3 = 7.800W (7,8 kW)
Artinya kamu butuh genset minimal 10 kVA untuk lighting-nya saja (biar aman).
Langkah 3: Jangan gabungkan line dengan sound system
Sound lebih sensitif terhadap drop voltase.
Lighting boleh goyang, tapi sound jangan sampai kresek.
5. Berapa KVA Genset yang Cocok Untuk Event?
Berikut estimasi paling aman untuk Jogja:
✅ Event Kecil (Wedding Rumahan, Gathering Kecil)
- Lighting 2–3 kW
- Sound 1–2 kW
Total: 5 kW → Genset 10 kVA
✅ Event Menengah (Wedding Gedung, Mini Concert, Festival Desa)
- Lighting 5–6 kW
- Sound 4–5 kW
- LED screen kecil
Total: 12–14 kW → Genset 20 kVA
✅ Event Besar (Konser, Expo, Festival Kota)
- Lighting full stage
- LED screen besar
- Sound line array
Total: 25–40 kW → Genset 50–60 kVA
Catatan: ini angka real dari lapangan, bukan teori.
6. Kenapa Event Harus Pakai Genset Terpisah (Bukan Listrik Gedung)?
Walaupun venue punya listrik, seringkali:
✅ MCB venue kecil
✅ Instalasi gedung tua
✅ Kabel kurang tebal
✅ Tidak ada backup kalau padam
✅ Voltase kadang turun saat load tinggi
Pakai genset khusus event lebih aman, karena:
- Voltase stabil
- Terpantau teknisi
- Ada backup
- Bisa disesuaikan dengan kebutuhan keseluruhan
- Bisa split line lighting / sound / LED screen
Dan kalau kamu di Jogja, opsi sewa genset Jogja jauh lebih simpel karena vendor biasanya include teknisi standby.
7. Tips Supaya Lighting Stabil dan Nggak Bikin Genset Kerja Berat
✅ 1. Gunakan lampu LED modern
Lebih terang, lebih hemat.
✅ 2. Hindari “menyatu” dengan alat pemanas
Seperti:
- kompor listrik
- dispenser pemanas
- rice cooker
- kettle
Alat ini tiba-tiba naik daya.
✅ 3. Minta panel listrik yang terpisah
Lighting sendiri, sound sendiri.
✅ 4. Kabel harus tebal
Minimal NYY 4mm atau 6mm untuk stage.
✅ 5. Cek beban awal genset
Kadang genset 20 kVA cuma efektif 16 kVA.
✅ 6. Pastikan teknisi lighting dan teknisi genset komunikasi
Ini penting banget numpuk alatnya di mana dan load mana yang diprioritaskan.
8. Jadi, Lighting Itu Boros Daya? Kesimpulannya…
👉 Lighting modern (LED) itu justru hemat, bahkan event medium hanya habis sekitar 6 kW.
👉 Yang bikin boros biasanya kombinasi alat lain seperti LED screen, AC portable, dan peralatan katering.
👉 Perhitungan daya wajib memakai cadangan minimal 20–30%.
👉 Semakin besar event, semakin penting memakai genset profesional.
👉 Dan kalau kamu di Jogja, layanan sewa genset Jogja bikin semuanya lebih aman karena teknisi standby langsung bantu kontrol beban.
Lighting bukan masalah utama. Yang penting adalah perhitungan daya, pemisahan line, dan teknisi yang ngerti cara baca beban.

